Rayakan Cap Go Meh 2026, Gema Sadhana Jateng Tegaskan Pentingnya Harmoni dalam Keberagaman

Kemeriahan perayaan Cap Go Meh 2026 terpancar di Kelenteng Low Lie Bio, Semarang, Jawa Tengah, pada Minggu (15/3/2026). Acara yang diinisiasi oleh Gema Sadhana Jawa Tengah ini bukan sekadar seremoni budaya, melainkan simbol kuatnya harmoni dan persatuan di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.

Ketua Umum Gema Sadhana, Dr. A.S. Kobalen, menyatakan bahwa Cap Go Meh merupakan momentum krusial untuk memperkokoh persaudaraan nasional. Menurutnya, kekayaan budaya yang dimiliki Indonesia adalah fondasi kekuatan bangsa yang wajib dirawat bersama.

“Indonesia adalah bangsa yang besar. Perayaan seperti Cap Go Meh ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa keberagaman adalah kekuatan, bukan pemecah belah,” ujar Kobalen dalam sambutannya.

Ia menambahkan, keterlibatan berbagai komunitas dalam ruang budaya seperti ini sangat efektif untuk membangun dialog positif dan kebersamaan di tengah masyarakat yang majemuk.

Nilai Toleransi dalam Tradisi Cap Go Meh 2026

Senada dengan hal tersebut, Ketua Dewan Penasehat Gema Sadhana Jawa Tengah yang juga menjabat sebagai Wakil Menteri Pertanian RI, Sudaryono, menekankan pentingnya menjaga nilai-nilai toleransi. Ia menyebut tradisi Cap Go Meh telah menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas nasional.

“Bangsa ini berdiri di atas pilar keberagaman. Tradisi budaya seperti ini harus terus kita jaga dan lestarikan sebagai kekayaan yang mempersatukan kita semua,” tegas Sudaryono.

Di sisi lain, Ketua Pelaksana kegiatan, Hocking Susanto atau yang akrab disapa Aw Tw, menyampaikan apresiasi mendalam kepada seluruh pihak yang menyukseskan acara ini. Ia berharap semangat kebersamaan ini terus mengalir dalam kehidupan sehari-hari.

“Semoga perayaan ini memperkuat harmonisasi antar masyarakat serta membawa berkah dan kebahagiaan bagi kita semua,” tutur Aw Tw.

Perayaan di Kelenteng Low Lie Bio ini turut dihadiri oleh berbagai tokoh lintas organisasi, perwakilan institusi, dan elemen masyarakat. Suasana penuh kehangatan tersebut membuktikan bahwa ruang budaya mampu menjadi jembatan penghubung bagi berbagai komunitas di Semarang dan sekitarnya.