Menteri Kebudayaan Terima Gema Sadhana, “Genjring Party” 1.000 Penari Jadi Uji Nyali Pemajuan Kebudayaan

DPP338 Views

Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon menerima pengurus Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Masyarakat Sanathana Dharma Nusantara (Gema Sadhana) di kantor Kementerian Kebudayaan, Jakarta, Senin, 23 Februari. Dalam pertemuan itu, Fadli menegaskan pemajuan kebudayaan tidak boleh berhenti pada acara seremonial, melainkan harus menjadi kerja bersama yang terukur dampaknya.

Salah satu agenda yang dibawa Gema Sadhana adalah Pelatihan 1.000 Penari “Genjring Party” yang melibatkan seribu sanggar tari di wilayah Jabodetabek. Kegiatan itu dijadwalkan berlangsung 28 Februari 2026 di Kuil Murugan atau Shri Sanathana Dharma Aalayam.

Fadli mengingatkan, mandat negara soal kebudayaan jelas, tetapi pelaksanaannya tak bisa hanya dibebankan pada pemerintah. “Sesuai Pasal 32 ayat 1 UUD 1945, bahwa negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia, kita punya kewajiban,” ujar Fadli.

Dari sisi kementerian, Direktur Pemberdayaan Nilai Budaya dan Fasilitasi Kekayaan Intelektual Yayuk Sri Budi Rahayu menekankan pelestarian hingga pewarisan budaya adalah tanggung jawab semua pihak. Pemerintah, kata dia, hanya satu simpul; masyarakat adalah penggerak utamanya.

Gema Sadhana berdiri sejak 2011 dan menyebut konsisten memperjuangkan hak serta aspirasi umat Hindu, Buddha, Konghucu, dan para penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sembari memperkuat nilai kebangsaan dalam keberagaman melalui aktivasi kebudayaan.

Ketua Umum DPP Gema Sadhana A.S. Kobalen mengatakan “Genjring Party” diarahkan untuk memacu regenerasi penari dan menguatkan sanggar-sanggar. “Kami ingin memberi motivasi bahwa sanggar-sanggar ini tidak sendiri, sanggar ini bisa kita bina dan bisa kita lestarikan,” kata Kobalen.

Perwakilan pimpinan sanggar, Ratu, menyebut antusiasme peserta tinggi. Ia menilai pelatihan itu bukan sekadar panggung, melainkan bentuk apresiasi karya seni sekaligus dorongan regenerasi, termasuk bagi pencipta musik yang terlibat.

Menutup diskusi, Fadli berharap aktivasi ekspresi budaya makin luas—dari seni rupa, seni tari, hingga seni pertunjukan—dan tidak berhenti sebagai agenda musiman.